Tradisi Ritual

Upah-upah (Rokan Hulu)

Upah-upah adalah sebuah kegiatan budaya dan tradisi orangtua, nenek-nenek dahulu, adapun kegiatan tersebut terkait dalam adat istiadat daerah Rokan Hulu, dikarenakan kegiatan ini diselaraskan dengan kegiatan adat yang dahulunya selalu diikutkan dalam adat beradat sesuai dengan pepatah adat “ Adat bosondikan syarak, syarak bosondikan Kitabullah”

Adapun upah-upah berguna untuk do’a keselamatan yang dilakukan dalam perbuatan orang tua-tua dahulu yang tidak lari dari syariat Islam, itulah budaya tradisi yang patut memiliki makna dengan pepatah adat diatas tadi.
Karena menurut Agama Islam do’a bukan saja dari lisan tetapi perbuatan juga merupakan bagian dari do’a, contoh yang paling simpel adalah sholat, namun perbuatan pupah ini tidak ada tuntunannya dalam agama, upah-upah yang dilakukan menyelarasi adat adalah do’a yang diiringi dengan perbuatan, dimana penyeruannya kepada Allah seperti kata-kata dalam upah-upah yang dibawakan oleh Pak Taslim “Ya Allah Ya Tuham kami … Tuhan yang Maujud sekalian alam …”
Apapun budaya yang dibuat dalam kegiatan Agama Islam sah-sah saja dilakukan tanpa mengarah kepada pertentangan terhadap syariat Islam itu sendiri.

Memang ada upah-upah yang menyalahi aturan dan syariat Islam seperti upah-upah yang dilakukan orang sebelum masuk Islam misalnya, Monyoru kepada selain dari Allah SWT, tidak berwudhuk, kata-kata upah-upah itu terdapat kalimat seperti : “ooo… nik syeih panjang jangguik …” “ooo … jin gombang gomalo pori, non duduk dipuncak gunong, sombuhkan kami, kombalikan somangek anak-komonakan kami ..” Apalagi tiada do’a yang mengacu kepada syariat Islam.

Bomou adalah sebutan bagi orang yang memandu upah-upah tersebut yang berarti dukun, namun bomo yang dimakud disini  sesuai pogang pakai adat adalah orang yang memiliki kelebihan dan pandai dalam melaksanakan upah-upah secara benar sesuai syarak (tidak menyalahi syariat agama Islam), dimana mashur dikatakan “ urang tukang upah-upah jangan mengatokan dirinyo datuk bomo kalau indo tontu dengan syarak non bosondikan kitabullah”.
Diluhak Rambah mereka yang lazim menjadi datuk Bomo itu dahulunya adalah golongan suku Bomo karena di zaman kerajaan orang-orang suku inilah yang selalu “dijopuik siang, dijopuik malam” dengan kata lain adalah orang yang dijadikan raja sebagai tukang obat keluarga raja.

Adapun macam upah-upah yang lazim dilakukan datuk Bomou seperti :
1. Upah-upah monyudahi Ubek (monutup obat)
2. Upah-upah Menyudahi oleh Konduri
3. Upah-upah Niat
4. Upah-upah ubek dalam tokojuik togamang.
5. Monyudahi kojo momaya utang langsai-langsai atau disebut juga upah-upah jopuik somangek.
6. Upah-upah Selamatan (upah-upah pomangku Nogori)
Upah-upah Pomangku Nogori/Upah-upah Selamatan, upah-upah ini lazim dibuat ntuk pemimpin (urang non bokopak leba borambai panjang) apabila sudah tabal sebagai pemimpin, lazim kegiatan ini dilakukan dalam pelewaan atau peresmian maka dilakukanlah upah-upah.
Pada kegiatan kali ini upah-upah selamatan dilakukan untuk mereka yang bokopak leba borambai panjang, agar dalam perjalanan kepemimpinannya diberikan keselamatan dan kekuatan serta segala sesuatu permintaan yang diharapkan oleh masyarakat dapat dijalankan dengan izin Allah SWT.

Alat-alat pupah dan kiasannya
Dalam upah-upah telah lazim diketahui secara umum dan nampak jelas oleh yang ramai adalah nasi kunyik dan panggang ayam/kepala kambing (lauk), ini dikiaskan dalam tutur datuk bomo “lai lauk lai ubek, poruik konyang ponyakik botah”, dimana arti dari pepatah ini adalah santapan bagi yang diupah-upah atau yang hadir bahwa makanan ini merupakan suatu keistimewaan yang disantap yang menjadikan media penghantar jiwa yang gembira dan dapat manfaat bagi selera dalam memenuhi kesenangan jiwa tersebut dengan diiringi do’a kepada Allah yang maha mencukupi segala sesuatu kepada kita.
Adapun makanan tersebut bukanlah tujuan daripada upah-upah tersebut tetapi merupakan simbol yang memiliki arti dan spirit dalam mengangkat jiwa kepada yang tinggi. adapun arti dari simbol tersebut adalah :
Nasi kunyit
Nasi kunyit yang dimasak dituri dan dijarum (dikeringkan dan diberi santan) adalah nasi yang paling lomak, dengan bau-bauan adat, adalah nasi yang sebenarnya dalam arti yang luas dalam filsafat kehidupan.

Lauk (panggang ayam / kepala kambing)
Adalah simbol kepada makanan yang enak baik menurut keadaan dan lugat pogang pakai awak, tak berlebihan jikalau seseorang yang baru sembuh dari sakit lauk ini hal yang diidamkannya. bagi mereka yang sehatpun tidak akan menolak bila disajikan lauk ini.
Melalui kalungan inilah menurut orang tua-tua terserapnya obat yang menyembuhkan yang dihantar dengan do’a.

Upah-upah Balai
Adapaun yang disebutkan dengan upah-upah balai adalah kalungan atau bahan upah-upah tersebut memakai kepala kambing untuk kegiatan upah-upah yang besar seperti yang dilakukan pada “upah-upah pomangku adat”

Do’a upah-upah
Lazim yang dibuat oleh Pak Taslim sebagai datuk bomo dalam upah-upah yang menurut beliau tidak menyalahi aturan agama Islam yang diajarkan oleh gurunya bernama Almarhum Komih Minih (Khlifah Umar) secara garis besar sebagai berikut:
diawali dengan mengucapkan Astaqafar 3x
kemudian Sholawat Nabi
Mengucapkan Salam antaro limo
kemudian kato slamat
ditutup dengan do’a
jika yang diupah-upah lebih dari satu dapat digilir dengan urutan sesuai tingkatnya lalu ditutup dengan do’a bersama.

Perbuatan Upah-upah
Sebagaimana yang dijelaskan diawal tadi bahwa upah-upah adalah do’a yang diikuti dengan perbuatan maka dalam upah-upah tidak terlepas dari perbuatannya sebagai simbol kegiatan tersebut.

Posisi dtuk bomo dibelakang sebelah kiri orang yang akan di upah-upah, dengan diangkat sedikit diatas bahunya lalu mulailah dengan do’a dan selamatan yang disampaikan oleh datuk bomou itu sendiri.

Jika upah-upah balainya besar dapat dibantu oleh dua atau empat orang dalam pelaksanaanya.

Demikianlah upah-upah yang sebenarnya sesuai tuntutan adat yang bersendikan syarak, syarak bersendikan kitabullah.
Semoga catatan ringkas ini dapat diadikan sebagai pengetahuan anak kemenakan kita dalam melihatr sebuah tradisi dari orang tua-tua kita yang benar dan tidak menyalahi aturan agama Islam.

Potang Bolimau

Potang Bolimau adalah kegiatan tradisi turun temurun daerah Rokan Hulu yang bertujuan membersihkan diri zahir dan batin lebih kepada yang zahir dengan tanpa meninggalkan batin yang disebut dengan hakikat,

Lazimnya kegiatan Potang Bolimau ini dilaksanakan beramai-ramai pada akhir bulan Syakban dalam menyambut bulan suci Ramadhan dengan secara jemaah dilakukan di sungai-sungai, boleh di sumur atau ditempat yang sepatutnya.

Kegiatan bolimau
Dalam memasuki bulan Suci Ramadhan harus membersihkan diri lahir dan batin dengan perbuatan bolimau untuk membersihkan badan diri kita.
Adapun cara mengangkat limau ini dilakukan dengan cara menyapukan limau ke kepala, karena kepala adalah mortobat yang paling tinggi (dalam arti yang luas dan mendalam)
Sedangkan limau adalah sebagai bahan baku yang tepat sebagai media pembersih yang dilengkapi dengan bungo rampai dimana bahannya terbuat dari daun-daun dan bunga-bunga yang harum diramu sedemikian rupa sehingga mengeluarkan harum-haruman dan bau obatan alami sebagai simbol pembersihan zahir yang berkaitan dengan sentuhan batin melalui do’a.

Cara Berlimau yang baik
Dalam melakukan traisi dan budaya Islam yang tidak dilaknat Allah serta terjerumus dalam perbuatan dosa maka dalam bolimau yang sesuai dilakukan oleh orang tua-tua kita dahulu adalah sebagai berikut :

Langkah pertama adalah membersihkan diri terlebih dahulu terutama yang zahir yaitu mandi dengan sempurna barulah diangkat mandi bolimau. Adapun lazim dibuat orang dulu do’a dalam mandi membersihkan diri ini adalah sebagai berikut dalam bahasa Indonesia “basmalah .. sahajo aku momborosiehkan diriku yang yang sohir yang batin dengan korono Mu Ya Allah dan didalam aku yang akan memasuki bulan suci Ramadhan somogo Ya Allah dengan ridomu aku mengharap bisa moikuti soroto molaksanakan ibadah puaso sopanjang bulan Ramadhan dengan ibadah-ibadah sunatnyo
Allamdulillahirobbil alamin lalu mandi,
setelah itu barulah bolimau dengan niat sebagai berikut :
Astaqofar 3 x
Sholawat nabi 1 x panjang
(Allahumma soli ala saidina Muhammad, Waala alihi Saidina Muhammad, Waala Alihi wasahbisi waumatihi) lalu disapukanlah 3 x limau tersebut
selesai. via rokan.org

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s