Perceraian di Rohul Paling Banyak Dipicu Selingkuh Lewat HP

Jum’at, 7 Januari 2011 18:32


Pada tahun 2010 tingkat perceraian di Rohul terus melaju tinggi, ironisnya penyebab utama perceraian bermula dari penggunaan handpone.

Riauterkini-PASIRPANGARAIAN– Kasus perceraian di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), pada tahun 2010 lalu meningkat 468 perkara, sedangkan tahun 2009 lalu, kasus perceraian hanya 342 perkara, terjadi peningkatan 126 perkara.

Data yang dihimpun dari Pengadilan Agama (PA) Pasirpengaraian, pada tahun 2009 lalu, kasus perceraian 342 perkara, 100 persen sudah diputuskan, sementara kasus perceraian tahun 2010, sedikitnya 50 perkara belum terselesaikan hingga awal tahun 2011 ini.

“Kendalanya, para tergugat berdomisili di luar daerah, seperti di pulau jawa, begitu pun ada tergugat yang alamatnya tidak diketahui (gaib),” ungkap Wakil Ketua PA Pasirpengaraian, Drs H Barmawi Arif, kepada riauterkini, Jum’at (7/1/10).

Dikatakan dia, jika tergugat gaib atau tidak diketahui alamatnya, sejak laporan masuk, empat bulan kemudian baru bisa dilakukan sidang, setelah dibuat berupa pengumuman dari Radio Republik Indonesia (RRI) selama dua kali.

“Pada awal tahun 2011 ini, ada 14 perkara yang sudah didaftarkan ke PA Pasirpengaraian, selanjutnya akan kami proses,” jelasnya.

Jelas Barmawi, sekaligus menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kabupaten Rohul, dari total secara keseluruhan perkara, sekitar 80 persen sudah diputuskan PA Pasirpangaraian.

“Cerai ada dua jenis, yaitu cerai talak yang diajukan suami, dan cerai gugat adalah pengajuan dari pihak istri. Namun sejauh ini laporannya berimbang,” ujarnya.

Diterangkan dia, faktor cerai didominasi keributan (cekcok) antara suami-istri, penyebabnya masalah ekonomi, perselingkuhan (sama-sama selingkuh), dan tidak bertanggungjawab.

Namun keributan tidak melulu faktor ekonomi, melainkan cenderung akibat salahsatu pasangan selingkuh, baik istri atau suami.

“Rata-rata mereka ribut setelah membaca SMS di handphone pasangannya, akibatnya pasangan yang merasa dirugikan mengajukan gugatan cerai. Intinya, kemajuan teknologi juga mempengaruhi tingginya angka perceraian,” jelasnya.

Pada tahun 2009 lalu, kasus perceraian juga didominasi karena perselingkuhan lewat handphone, sebab handphone sangat besar pengaruhnya, selain digunakan untuk hal positif, namun lebih cenderung ke arah negatif.

Menurutnya, perceraian atau kemelut rumah tangga minim terjadi jika dilakukan penerapan agama mengenai kewajiban suami-istri di dalam rumah tangga, sebab masing-masing pasangan sudah mempunyai landasan agama.

“Intinya, sebagai kepala keluarga harus bertanggungjawab terhadap hak dan kewajiban, sehingga tidak timbul keributan dan menyebabkan perceraian. Begitu pun ibu rumah tangga, agar memberikan service yang maksimal kepada pasangannya, sehingga suami betah dirumah,” himbaunya.***(zal)

Sumber: http://www.riauterkini.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s