PPRN Tuding Indra Ramos Minta Uang Rp 100 Juta

Jum’at, 21 Januari 2011 17:12

Merasa dikait-kaitkan dengan kasus ‘Lukisan Bali‘ yang hanya senilai Rp 250 ribu, Ketua PPRN mencak-mencak. Ia justru mengaku dimintai uang Rp 100 juta oleh Indra Ramos.

Riauterkini-PEKANBARU-Ketua PPRN Rokan Hulu, Ali Imran Tanjung mencak-mencak. Pasalnya, namanya dibawa-bawa dalam laporan mantan anggota KPU Rohul, Indra Ramos ke Bawaslu. Katanya, ada permintaan dari ketua KPU Riau, R Sofyan Samad saat ia menghadiri Munas PPRN di Bali Maret 2010 lalu berupa lukisan Bali.

Kepada Riauterkini Jum’at (21/1/11) ia membantah pernyataan Indra Ramos yang mengatakan bahwa dirinya dimintai ‘setoran’ oleh Ketua KPU Riau berupa lukisan bali. Ia mengakui bahwa anggota KPU Riau, Asmuni Hasymi menelephone dirinya dan menitipkan sebuah lukisan Bali. Namun itu benar-benar titipan. Pasalnya, Asmuni Hasymi mengganti uang pembelian lukisan Bali senilai Rp 250 ribu.

“Saya memang dititipi sebuah lukisan Bali oleh anggota KPU Riau, Asmuni Hasymi. Namun itu memang benar-benar titipan antara kawan dan bukan antara anggota KPU dengan partai. Setelah saya sampai di Pekanbaru, Asmuni mengganti uang pembelian lukisan bali tersebut. Dan ini bukanlah berupa sogokan atau uang suap,” terang kubu pemenang dari konflik dualisme kepemimpinan di PPRN Rohul.

Justru, tambahnya, ia mengaku sering ‘diperas’ oleh Indra Ramos semasa masih aktif sebagai anggota KPU Rohul. Misalnya ia dimintai uang yang katanya akan digunakan untuk anggota KPU ke luar kota sebelum berangkat ke Munas PPRN di Bali. Karena tidak ada uang waktu itu, ia tidak memberikannya.

Namun, sepulang dari Munas PPRN di Bali, Ali Imran Tanjung menyatakan bahwa ia kembali dimintai dana oleh Indra Ramos dengan alasan akan digunakan KPU untuk ke luar kota. Kali ini, ia memberikan dana sebanyak lebih dari Rp 4 juta. Namun ketika dikonfirmasi ke anggota KPU Rohul yang lainnya, tidak ada rencana apa-apa ke luar kota, dan anggota KPU Rohul lainnya merasa tidak mengetahui masalah ‘setoran’ dana tersebut.

Bukan hanya itu, Indra Ramos juga pernah meminta uang kepada PPRN agar dimenangkan dalam konflik dualisme kepemimpinan PPRN Rohul. Nilainya sebanyak 100 juta. Namun karena saya mengetahui hasil Verifikasi Depkum dan HAM memenangkan kubu kami, saya tidak memberikan dana tersebut,” terangnya.

Sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, kasus korupsi dan penyuapan seperti itu akan dijerat dengan pasal 5 ayat (1) huruf a UU 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 jo pasal 64 ayat (1) KUHP atau pasal 13 UU 31 Tahun 1999. Dakwaan kedua menjerat dengan pasal 11 UU No 31 Tahun 1999. Berdasar pasal-pasal itu, ancaman hukumannya maksimal lima tahun penjara. ***(H-we)

Sumber: http://riauterkini.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s