BAGIAN YANG KEDUA: Tengkoe Radja Rokan


Menyatakan raja yang kedua yang memerintah dalam Luhak Rokan yaitu bergelar Tenkoe Panglima Radja, kemudia bergelar Tengkoe Radja Rokan.

Alkisah maka tersebutlah perkataan pada zaman Tengkoe Rajda Rokan memerintah dalam Luhak Rokan. Adapun pada kemudan telah mangkat ayahnya Soetan Seri Alam, maka Tengkoe Palima Radja memerintah segala rakyatnya di Koto Sembahjang Tinggi, serta ianya beristrikan seorang bansa ke Empat Suku.

Sahdan dalam 4 atau 5 tahun Tengkoe Panglima Radja telah memerintah dibelakang ayahnya, maka orang di Koto Sembahjang Tinggi bertambah banyak juga serta bertambah sukunya orang yang datang itu.

  1. Maka orang yang Suku Melayu asal datang dari Padang Panjang, setengahnya tinggal di Rao, baru lalu ke Luhak Rokan menempat di Koto Sembahjang Tinggi.
  2. Orang Suku Mandahiling dan Mais datang dari Koto Benio Tinggi, setengahnya berhenti di Petok kemudian baru masuk ke Luhak Rokan menempat ke Koto Sembahjang Tinggi.
  3. Orang Suku Petopang asalanya keluar dari Muara Tais, kemudian baru masuk ke Luhak Rokan menempat ke Koto Sembahjang Tinggi.
  4. Orang Suku …………. Asalnya juga dari Muara Tais, kemudian masuk ke Luhak Rokan menempat di Koto Sembahjang Tinggi.
  5. Orang Suku Peliang, asalnya dari Padang Panjang, kemudian datang pula ke Petok bagian Luhak Lubuk Sikaping, kemudian pindah ke Rao yaitu Lansat Kodok, kemudian masuk ke Luhak Rokan menempat ke Koto Sembahjang Tinggi.
  6. Orang Suku Caniago, datang dari Padang Panjang, diam di Rao kemudian baru masuk ke Luhak Rokan menempat ke Koto Sembahjang Tinggi.

Kemudian telah berkumpul segala orang-orang suku yang tersebut diatas ini ke Koto Sembahjang Tinggi, mereka itu semuanya berkampung dan berladang, diperintahkan oleh Tengkoe Panglima Radja, semakin lama bertambah ramai juga Koto Sembahjang Tinggi.

Adapun dalam hal yang demikian, maka terbitlah pikiran Tengkoe Panglima Radja, hendak mendirikan Tua-tua dalam tiap-tiap suku yang tersebut. Sehabis itu maka mufakatlah Tengkoe Panglima Rajda dengan Datuk Nan Setia orang tua dalam suku yang datang itu, akan mendirikan adat tua-tua dalam tiap-tiap suku. Sehabis mufakat maka orang Koto Sembahjang Tinggi berelat dan berjamu mengangkat tua dan tiap-tiap suku.

Dan Tengkoe Panglima Radja diangkat gelar Tengkoe Radja Rokan, maka orang besar-besar dalam Koto Sembahjang Tinggi pada zaman itu gelarnya:

  1. Datoek Nan Setia’
  2. Datoek Singa
  3. Datoek Diradja
  4. Datoek Dalam

Kemudian  dari pada itu maka dibuat pula Hulubalang yang dipilih yang gagah berani, maka gelar Hulubalang itu seperti dibawah ini:

  1. Gelar Toepang Muara Poejan
  2. Gelarnya Sambal Seoepih
  3. Gelarnya Imbang Langit
  4. Gelarnya Elang Laut
  5. Gelarnya Panglima Emping Berantah
  6. Gelarnya Mata Inda dan
  7. Gelarnya Sapoe Rantau

Adapun sehabis orang Koto Sembahjang Tinggi berjamu mengangkat Tengkoe Panglima Radja bergelar Tengkoe Radja Rokan, pada ketika itu mulailah menanam dan mengatur orang-orang besar dan Hulubalang yang tersebut diatas maka orang Koto Sembahjang Tinggi pun bertambah ramai juga, dalam hal yang demikian maka orang Koto Sembahjang Tinggi memperbuat kampung pula dua buah, satu bernama Koto Tandjoeng Sabar letaknya ditepi sungai Rokan, sebelah kiri mudik, berdekatan sebelah mudik Muara Siasam sekarang. Kedua Kampung Simpang Dua, letaknya sebelah kanan Sungai Rokan antara Sungai Pusu sekarang. Lagi pula lagi dibuat satu kampung bernama Koto Renah letaknya sebelah kiri Sungai Rokan. Maka yang tersebut itu jadi anak kampung Koto Sembahjang Tinggi.

Sahdan maka Tengkoe Radja Rokan dan orang Koto Sembahjang Tinggi pun bertambah ramai dan makmur. Pada ketika itu Tengkoe Radja Rokan mufakat dengan orang besar-besar yaitu segala kampung-kampung Sakai yang tersebut diatas, yang memang dahulu kedapatan oleh ayahnya Soetan Seri Alam dalam Luhak Rokan ini diamuk dan dilanggar, supaya mereka itu ikut perintah dan beraja di Koto Sembahjang Tinggi.

Adapun yang mula-mula diserang, yaitu Kampung Sakai di Batu Bulan, kedua Kampung Sakai di Koto Kinajang, ketiga Kampung Sakai di Parit Batu, keempat Kampung Sakai di Koto Berhala yang tersebut pada permulaan buku ini. Dalam hal yang demikian segala sakai yang tersebut tiada membuat lawan dengan kuat, hanyalah mereka mengikut beraja kepada Tengkoe Radja Rokan di Koto Sembahjang Tinggi, kemudian maka segala Sakai-sakai itu rupanya tiada sengan ikut perintah pada Raja Melayu, maka mereka itupun keluarlah dari kampungnya masing-masing pergi membawa dirinya ketanah seberang, sampai sekarang ada lagi pihak-pihak itu orang menjadi Sakai juga dalam bagian Perak (Malaysia sekarang).

Oleh sebab itu luhak ini tinggal didiami bangsa Melayu saja.

Hatta tiada beberapa lama kemudian daripada itu, maka datanglah satua buah perahu dari laut, nahkhodanya bergelar Pendekar Alam Berkokok; kepala dari perampok laut. Maka setiba pendekar itupun singgahlah di Koto Sembahjang Tinggi, maksudnya hendak mengamuk Koto Sembahjang Tinggi. Sampai disitu maka pendekar itu tiada mau menghadap raja disitu, hanyalah kerjanya mencari jalan perkelahian saja. Apabila malam hari pendekar itu naik ke Koto Sembahjang Tinggi, lalu berkukuk seperti ayam, serta menepuk-nepukkan tangan dan menghimbau lawan hendak berkelahi. Maka pada ketika itu seorang Hulubalangpun tiada dibenarkan raja melawan itu pendekar, hanyalah menanti ketika yang baik langkah yang elok, buat melawan itu pendekar berkelahi, sehingga sampai 7 hari lamanya Tengkoe Radja Rokan mencari langkah itu tiada juga dapat. Sebab itu Tengkoe Radja Rokan menyuruh 7 orang Hulubalang maksud ke Tapung di Koto Siboeaja, ada seorang akan dipanggil, bergelar Datoek Ama Pahlawan, yaitu seorang yang gagah berani, minta tolong melawan Pendekar Alam Berkokok berkelahi di Koto sembahjang Tinggi.

Arkian maka 7 orang Hulubalang itupun teruslah berjalan menuju Koto Sibuaja dengan membawa satu ekor anjing. Sampai mereka itu di Bukit Suligi maka anjing itupun bertemulah dengan seekor anjing dalam hutan itu lalu berkelahi kedua anjing itu pada satu cabang pada Bukit Suligi itu. Oleh sebab itu terdengarlah oleh orang yang 7 tadi, terus didekatinya dimana tempat anjing itu berkelahi. Sampai disitu bertemulah orang yang 7 orang tadi dengan tuan anjing itu yaitu bergelar Datoek Godang Tjintjin (Datuk Godang Cincin). Oleh sebab itu mengeceklah kedua belah pihaknya, dalam keceknya itu tersebutlah bahasa mereka itu suruhan oleh Tengkoe Radja Rokan, disuruh menjemput Datoek Ama Pahlawan akan dibawa ke Koto Sembahjang Tinggi, akan melawan Pendekar Alam Berkokok.

Adapun Datuk Godang Cincin datang itu berdua dengan anaknya yaitu asalnya Kepala Negeri Tanjung pada Sungai Kampar. Maka kata Datuk Godang Cincin, janganlah menjemput Datuk Ama Pahlawan itu biarlah hamba sahaja bersama menghadap Tengkoe Radja Rokan buat melawan Pendekar Alam Berkokok itu, sahut ketujuh utusan itu, kalau datuk mau baiklah. Sebab itulah ditetapkan sekarang itu batas Rokan dengan Kampar yaitu Bukit Kalaran anjing yang tersebut itu.

Maka Datuk Godang Cincin dan ketujuh orang utusan Raja itupun berjalanlah ke Koto Sembahjang Tinggi, sesampai di Koto Sembahjang Tinggi Datuk Godang Cincin pun pergilah menghadap raja ke istana. Pada ketika itu dititahkanlah oleh raja kepada Datuk Godang Cincin bahasa ada seorang Pendekar Alam Berkokok darang dari laut maksudnya hendak berkelahi dengan orang Koto Sembahjang Tinggi pada ketika itu seorangpun tiada yang sanggup buat melawan pendekar itu. Sebab itu kami minta pertolongan pada datuk. Jawab Datuk Godang Cincin, baiklah, boleh patik coba melawannya.

Kemudian daripada itu segala kelakuan pendekar itu menghimbau lawan, diceritakan oleh Tengkoe Radja Rokan.

Sahdan sampai pada waktu malam harinya, maka naiklah pula Pendekar Alam Berkokok kedalam Koto Sembahjang Tinggi, lalu berkokok menghimbau lawan, maka dijawab oleh Datuk Godang Cincin dengan katanya, disini tiada orang berkokok, hanyalah ayam yang pandai berkokok, maka terdengarlah Pendekar Alam Berkokok, iapun kembalilah ke perahunya, lalu tidur sampai pagi harinya. Setelah hari pagi, Pendekar Alam Berkokokpun naiklah pula kedarat dengan membawa sebilah pedang, lalu berkata; siapakah yang jantan malam tadi, turunlah supaya boleh kita berkelahi. Dijawab Datuk Godang Cincin; akulah yang bercincin banyak dan lain orang tiada yang bercincin. Sehabis itu Datuk Godang Cincin pun pergilah menghadap Tengkoe Radja Rookan, mengabarkan bahasa hendak melawan pendekar itu; jawab raja, baiklah.

BAGIAN YANG PERTAMA (Soetan Seri Alam)

Advertisements

6 comments on “BAGIAN YANG KEDUA: Tengkoe Radja Rokan

  1. Pingback: BAGIAN YANG PERTAMA (Soetan Seri Alam) « AJIRA MIAZAWA

  2. Assalamualaikum Pak Ajira,

    saya mau tanya, berdasarkan cerita yang di atas ada beberapa suku (Malayu, Pitopang, Caniago) yang datang ke Rokan Hulu dari Padang Panjang (Kabupaten Tanah Datar sekarang)..Apakah beliau-beliau ini merupakan bagian dari nenek moyang orang asli Rokan Hulu sekarang atau sampai sekarang mereka tetep dianggap sebagai pendatang?

    Terima kasih,

  3. @Ridho: itu tergantung pribadi mereka masing-masing di daerah tertentu, ada yang mengakui dan ada pula yang tidak. Tidak banyak orang yang tau cerita tentang kisah ini. Bagi yang tau ceritanya, mungkin mereka mengerti, bagi yang tidak? mungkin mereka akan nrimo aja.

  4. @Ridho Caniago Sutan Palimo Bandaro: Itu tergantung personal masing-masing kayaknya dan itu tidak bisa kita paksakan. Tapi yakinlah tidak semua orang beranggapan seperti itu. 🙂

  5. Pingback: BAGIAN YANG KETIGA: Soetan Panglima Dalam | Ajira Miazawa Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s