Gangguan Gajah

Warga Sungai Pakis Tolak Gajah

Masyarakat yang bermukim disekitar hutan Sungai Pakis Desa Pemandang Kecamatan Rokan IV Koto, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau, menolak kawasan hutan tempat tinggal mereka dijadikan habitat gajah.

Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Rohul Sri Hardono ketika dihubungi di Pasir Pengaraiyan, Kamis, mengatakan, masyarakat Pemandang memrotes upaya pemerintah daerah memindahkan puluhan ekor gajah hasil tangkapan Dishut dan KSDA Riau ke kawasan hutan Sungai Pakis.

“Masyarakat menolak hutan Sungai Pakis jadi habitat gajah, karena khawatir hewan tersebut menganggu mereka,” ungkap Sri Hardono.

Menurut dia, Bupati Rohul telah mengeluarkan Surat Keputusan perihal pemindahan gajah tangkapan ke hutan Sungai Pakis yang selama ini dikenal sebagai habitat gajah.

Ia mengatakan, kawasan hutan seluas 1.500 hektare merupakan alternatif satu-satunya untuk habitat gajah dari beberapa kawasan hutan yang terdapat di Rohul seperti hutan lindung Mahato atau Bukit Suligi, karena kondisinya rusak parah.

Dijelaskannya, dari hasil penelitian dan studi kelayakan yang dilakukan KSDA Riau dan WWF, kawasan hutan Sungai Pakis cocok dijadikan habitat gajah selain terdapat kawasan hutan juga ada sungai yakni Sungai Pakis sebagai sumber air bagi hewan langka itu.

“Sayangnya, masyarakat tidak setuju dan menolak. Bahkan anggota tim yang membawa gajah ke lokasi tersebut dihadang dengan parang,” ungkapnya.

Menurut dia, pada Desember 2002 lalu terdapat sekitar 35 ekor gajah liar mengamuk di kecamatan Rambah Hilir dan selama tiga bulan bekerja pihaknya telah berhasil menangkap belasan ekor gajah.

Namun, lanjut dia, untuk memindahkan gajah tersebut ke habitatnya sangat sulit karena di kawasan Rohul selain tidak ada hutan yang layak juga protes masyarakat yang bermukim di sekitar hutan yang menolak daerah mereka dijadikan habitat gajah.

Penolakan masyarakat terhadap penempatan hewan langka yang dilindungi pemerintah itu juga diakui kepala Unit Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Riau Jhon Kenedie.

Menurut dia, beberapa daerah di Riau daratan seringkali diamuk gajah, yang menimbulkan konflik dengan masyarakat. Pemerintah kesulitan untuk menempatkan hewan besar itu ke kawasan hutan yang merupakan habitatnya.

“Gajah-gajah yang berhasil ditangkap sulit kami lepas ke habitatnya karena masyarakat marah jika mengetahui hutan tempat tinggal mereka dihuni gajah,” kata Jhon.

Menurut dia, di Riau terdapat beberapa kawasan konservasi yang layak dijadikan habitat gajah namun sulit memindahkan hewan tersebut ke habitatnya karena dihadang masyarakat.

“Untuk memindahkan gajah tangkapan ke PLG (Pusat Latihan Gajah) tidak mungkin, karena telah melebihi kapasitas,” ungkap Jhon yang mengaku bingung mau dikemanakan gajah liar yang telah berhasil mereka tangkap. [Tma, Ant]

Diposkan pada  3 April 2003 melalui Gatra

Sumber: http://arsip.gatra.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s