Ternyata, Pilot Pribadi Pesawat Presiden Lybia, Muammar Khadafi dari Indonesia

Ternyata kita punya seorang Pilot, yang pernah menjadi Pilot VVIP-nya Presiden Libya Muammar Khadafi lho….! Nama Pilot itu adalah Ganahadi Ratnuatmaja. Pilot ini kelahiran Bandung, 10 Oktober 1954. Pak Ganahadi ini menjadi Pilotnya Muammar Khadafi dari awal Tahun 2004 – 2007.

Asal tahu aja Muammar Khadafi ini adalah incaran Amerika Serikat, selama bertahun-tahun, dan sasaran untuk dibunuh. Gara-garanya Libya melindungi para teroris yang mengebom pesawat PAN AM di Lockerby Inggris, & perannya sebagai pemasok senjata bagi beberapa Negara, yg notabene oleh Amerika Serikat dianggap sebagai ‘Sarang Teroris’.

Awalnya Pak Ganahadi ini saat Tahun 2003,saat itu ia menjadi pilot di Airline Amiri Flight Abu Dhabi, & kebetulan saat itu ia ditugaskan melatih para awak pesawat VVIP Libya, latihan ini berlangsung selama 6 bulan. Selama masa itu pula Pak Ganahadi ini sempat menerbangkan Muammar Khadafi selama beberapa kali.

Rupanya selama itu Muammar Khadafi terkesan dengan kepiawaian Pak Ganahadi, dan akhirnya dari pihak Kepresidenan Libya menawari Pak Ganahadi untuk bergabung masuk dalam jajaran pilot VVIP Libya.

Mula-mula Pak Ganahadi ragu-ragu, namun setelah sekembalinya ke Amiri Flight, Pak Ganahadi ditugaskan untuk membantu menjadi Pilot VVIP Emir Qatar, dan langsung terbang ke Doha. Baru beberapa hari di Doha telepon rumahnya di Jakarta, berdering dan dia di telpon dari Libya untuk segera ke Libya untuk menjadi Pilot VVIP.

Persoalan menjadi pelik setelah Emir Qatar tidak memberi ijin, & meminta Libya untuk mencari orang lain saja. Namun pihak Libya sendiri tetap ngotot, akhirnya terhitung delapan bulan semenjak permintaan awal dikeluarkan pihak Libya, Pak Ganahadi akhirnya diijinkan pindah oleh Emir Qatar, dan dalam dua hari kemudian langsung terbang ke Libya

Proses masuknya Pak Ganahadi ini tanpa Screening Intelejan & tanpa birokrasi berlebih. Masuknya Pak Ganahadi di Penerbangan VVIP, merupakan sejarah tersendiri karena, merupakan satu-satunya pilot asing di jajaran pilot kepresidenan Libya. Dan menurut Pak Ganahadi , Muammar Khadafi merupakan sosok yang ramah, dan Pak Ganahadi diberi kepercayaan penuh dari Khadafi. Ia mendapatkan Pengahargaan Mahaputra & passport seumur hidup dari Presiden Khadafi.

Sumber: http://www.readonsite.co.cc

Kekuatan Wanita Cantik di Balik Kuasa Khadafi

“Berlusconi membantu Khadafi dengan mengirim dua wanita penggoda yang cantik.”
Muammar Khadafi Pemimpin Libya (therealtimer.com)
Pemimpin Libya Muammar Khadafi menghalalkan segala cara demi kekuasaan. Ia membiarkan warganya saling bunuh demi melanggengkan kekuasaannya yang telah menginjak tahun ke-41. Ia pun pernah mengandalkan wanita penggoda demi jabatan pemimpin Uni Afrika.

Mantan pembantu dekat Khadafi, Nuri Al Mismari, membeberkan rahasia soal wanita penggoda itu dalam wawancara dengan surat kabar Arab,Ashaeq Al-Awsat, di Paris. Mismari menjabat sebagai diplomat Khadafi selama 35 tahun sebelum meninggalkan Libya dan mengasingkan diri ke Paris, tahun lalu.

Mismari mengatakan bahwa Perdana Menteri Italia, Silvio Berlusconi, terlibat dalam permainan kotor itu. Berlusconi membantu Khadafi mengatur pengiriman wanita penggoda kepada dua pemimpin negara yang tergabung dalam Uni Afrika. Namun, Mismari menolak menyebut pemimpin negara Afrika tersebut.

Mismari hanya mengatakan bahwa wanita cantik pilihan Berlusconi bertugas merayu dua pemimpin negara di Afrika agar mendukung Khadafi sebagai pemimpin Uni Afrika pada pemilihan Februari 2009. Dua pemimpin negara tersebut sempat menentang Khadafi memimpin organisasi yang beranggotakan 53 negara Afrika.

Khadafi dan Berlusconi tampaknya memiliki kedekatan personal yang baik. Berlusconi yang tengah terbelit skandal seks itu baru mengutuk tindakan brutal Khadafi membantai warganya sendiri setelah mendapat kritik keras dari kaum oposisi di Italia.

“Berlusconi membantu mengatasi situasi dan mengamankan posisi Khadafi dengan mengirim dua wanita penggoda yang cantik,” kata Mismari, seperti dikutip dari lamanTelegraph. Di akhir wawancara Mismari menyatakan malu pernah bekerja untuk rezim Khadafi.

Sumber: vivanews

Kegilaan Kolonel Khadafi

Dia pernah dibenci Barat, tapi lalu jinak. Anti imperialisme, dan suka tidur di tenda.
Muammar Khadafi Pemimpin Libya (AP Photo/ Ben Curtis)
Muammar Khadafi adalah seorang kolonel tanpa urat takut.  Pada 1969, di usia muda, dengan nyali yang menyala, dia menjungkalkan tahta raja Libya, satu kudeta yang berhasil, dan membalikkan gerak sejarah negeri itu.

Dia tampil sebagai revolusioner nekad, meski kerap juga ngawur. Kini, setelah 41 tahun berkuasa, Khadafi tak juga gentar. Dia tahu, hari-hari ini di sekujur tanah Arab para tiran terancam terguling oleh pergolakan rakyat.

Tapi Khadafi yang lama menjadi antagonis–dia rajin berkelahi dengan tetangganya sesama bangsa Arab, kini seperti hendak menegaskan kembali wataknya yang keras kepala.

Berdiam di tenda, dia pernah menyambut gencarnya bom Amerika Serikat pada 1986,  dengan tenang. Barangkali, itu sebabnya, ketika demonstrasi kian hebat menuntut dia mundur, Khadafi melihat gerak protes tak bersenjata itu seperti sebuah ancaman militer. Warga sipil Libya, yang menuntut perubahan itu, dihajarnya dengan jet tempur.

Kini, tanpa rasa bersalah, pemimpin bernama lengkap Muammar Muhammad al-Khadafi itu nekad menembaki rakyat sendiri.

Konflik di Libya, kata banyak pengamat, tak akan terjadi bila tak ada pergolakan di Tunisia dan Mesir. Dua tetangga mengapit Libya itu berhasil menjungkalkan rezim yang kelewat lama berkuasa di negeri mereka. Revolusi adalah gagasan yang menular, dan momen itu dimanfaatkan oposisi di Libya melawan rezim Khadafi.

“Kemarin Ben Ali [Tunisia], hari ini Mubarak [Mesir]. Selanjutnya harus Khadafi,” ujar seorang pemrotes di Kota Benghazi, tak lama setelah mendengar pengumuman Presiden Mesir, Hosni Mubarak, berhasil dipaksa mundur pada 11 Februari lalu.

Tapi Khadafi adalah kolonel yang hanya mendengar dirinya sendiri. “Mereka main keras, saya juga main keras. Saya akan bertahan hingga tetes darah terakhir” ujar Khadafi seperti dikutip kantor berita Associated Press.

Dia lalu menuding siapa saja yang menyebar kebencian atas dirinya, mulai dari negara-negara Barat pimpinan Amerika Serikat hingga jaringan teroris al-Qaidah. Pekan lalu, dia seperti meracau, mengatakan semua rakyat Libya mencintai dia. Washington pun menilai Khadafi “melantur”. Tak ada kata lain bagi Khadafi, kata Gedung Putih, selain dari turun dari kekuasaan.

Korban jiwa pun berjatuhan di Libya. Menurut Duta Besar Libya untuk PBB, Ali Suleiman Aujali, lebih dari 2.000 orang tewas dalam dua pekan terakhir. Warga yang melawan itu tumbang diberondong peluru tajam oleh milisi pro-Khadafi, yang kebanyakan adalah tentara bayaran dari Chad.

Khadafi akrab dengan kekerasan. Begitu meraih kekuasaan, dia bertahan selama 40 tahun lebih, dengan cara brutal. Tak heran, bila dia kini memakai segala cara, mulai dari menyewa milisi bayaran, hingga memberikan sogokan akan menaikkan gaji pegawai negeri sebesar 150 persen, dan memberi santunan tunai bagi keluarga yang loyal.

Mungkin karena berpengalaman menghadapi kudeta dalam negeri, Khadafi tak takut ancaman dari negara Barat, yang menyerang Libya dengan operasi militer. Dia pernah mengalaminya pada 1986, saat rumahnya dihajar bom oleh jet tempur Amerika. Banyak pengikutnya, termasuk anak angkatnya, tewas. Tapi Khadafi lolos dari maut. Dia terus melawan.

Seorang diplomat Libya, bekas penerjemah Khadafi yang kini mengajar di AS, Abubakar Saad, juga menyarankan cara keras, bila dia tetap tak bisa diajak kompromi. “Bila ada pemimpin tak mau berkompromi, atau bahkan tak mau duduk, dan berdialog, satu-satunya alternatif adalah menyingkirkan dia, membunuhnya mengakhiri situasi ini,” kata Saad seperti dikutip Voice of America.

Di gurun pasir

Khadafi besar dalam angin padang pasir yang keras. Dia lahir di suatu tenda Badui, di gurun pasir dekat Kota Sirt, pada 1942. Dia berasal dari suku kecil turunan Berber Arab, yaitu Khadafa.

Tumbuh saat dunia Arab sedang bergolak, Khadafi tampaknya menyerap semua konflik itu ke jagad kecilnya. Di Palestina, konflik berlarat-larat setelah Yahudi membentuk negara Israel pada 1948. Dia juga larut dalam gelora nasionalisme Arab, yang diteriakkan pemimpin Mesir Gammal Abdul Nasser, pada 1952.

Bersekolah di madrasah setempat, Khadafi kecil telah menaruh minat besar pada sejarah. Selesai menjalani pendidikan lanjut, Khadafi terjun ke dunia militer. Di Libya pada saat itu, menjadi tentara adalah peluang emas memperbaiki taraf hidup bagi keluarga kurang mampu. Itu sebabnya, masuk militer adalah pilihan bagi  anak-anak muda miskin seperti Khadafi.

Pada 1961, Khadafi masuk ke akademi militer. Dia lulus lima tahun kemudian. Dianggap punya prospek cemerlang, Khadafi terpilih ikut pendidikan militer lanjutan selama beberapa bulan di Akademi Militer Inggris, Sandhurst. Dia pun menerima pelatihan militer di Athena, Yunani.

Sebagai perwira muda, Khadafi malu melihat negara Arab, yaitu Mesir, Suriah, dan Yordania, kalah perang dengan Israel di tiga front pada 1967. Dia kian geram, karena Raja Idris I dari Libya, hanya berpangku tangan melihat sesama bangsa Arab dipermalukan Israel dalam Perang Enam Hari.

Khadafi lalu bertekad menggulingkan Raja Idris.

Peluang itu tiba pada 1 September 1969. Saat itu, Raja Idris sedang ke Yunani untuk berobat. Muncul kabar, karena sering sakit-sakitan, Raja Idris akan lengser.  Dia menyerahkan kekuasaan kepada keponakannya, yang menjadi putra mahkota, Sayyid Hasan ar-Rida al-Mahdi as-Sanusi, atau Hasan as-Sanusi.

Tanggal penyerahaan tahta dari Raja Idris kepada Pangeran Hassan berlangsung pada 2 September 1969. Sehari sebelum ritual penyerahan tahta, saat Idris masih di luar negeri, Khadafi bergerak. Dia mengumumkan di radio, Libya berada di tangan Dewan Revolusi yang akan menyelamatkan negara dari kekosongan kekuasaan.

Junta militer pimpinan Khadafi lalu menangkap kepala staf militer dan kepala keamanan, yang setia dengan Raja Idris. Sang Raja terhenyak. Dia tak bisa lagi pulang, hingga wafat di Mesir pada 1983.

Stasiun berita BBC menceritakan bagaimana Khadafi, perwira 27 tahun namun telah berpangkat kolonel, secara cemerlang melakukan kudeta tak berdarah. “Kudeta itu hanya memuntahkan beberapa peluru,” tulis BBC.

Nasib calon raja yang batal, Hasan as-Sanusi lebih buruk. Dia menjadi tahanan rumah, dan sempat dipenjara selama tiga tahun pada 1971. Hasan dan keluarga diusir dari rumah mereka pada 1984.

Hasan harus menggelandang di pantai, hingga diserang stroke. Khadafi mengizinkannya berobat ke London, Inggris. Hasan pun  meninggal di sana. Dia dikuburkan di sebelah makam Raja Idris, di Madinah, Arab Saudi.

Kitab Hijau

Setelah menyingkirkan kekuatan lama, pada  awal berkuasa, rezim Khadafi melakukan perubahan besar. Kerajaan Libya dibubarkan. Dia lalu membentuk Republik Sosialis Arab, dengan nama resmi Republik Rakyat Sosialis Agung Jamahiriya Arab Libya.

Bendera nasional pun diganti, dari gabungan warna merah, hitam, dan hijau, dengan lambang bintang dan bulan sabit di tengah-tengah, menjadi warna hijau polos.

Khadafi pun tak menyatakan diri sebagai presiden atau raja.  Dia menabalkan dirinya seorang “brother leader”, dan sang pemandu revolusi. Dia sempat menjabat perdana menteri selama 1970-1972. Sebagai pemimpin belia, Khadafi menunjukkan kepada bangsa Arab, perubahan radikal sedang bergerak di Libya.

Sistem pemerintahan Libya dirombak. Menurut kajian Library of Congress pada 1987 berjudul “Government and Politics of Libya”, Libya dipimpin dua pilar utama, yang disebut dengan sektor.

Salah satu pilar, yaitu “Sektor Revolusioner,” terdiri dari Khadafi sebagai pemimpin Revolusi, Komite Revolusi, dan Dewan Komando Revolusi, yang beranggotakan 12 orang. Mereka inilah inti kekuasaan di Libya karena para komite dan dewan tidak dipilih, melainkan ditunjuk, serta tak ada masa bakti.

Pilar lain adalah “Sektor Jamahiriyah”, adalah Kongres Rakyat mewakili 1.500 wilayah, dan 32 anggota Kongres Rakyat Sha’biyat. Mereka dilihat sebagai lembaga legislatif. Para anggotanya dipilih setiap empat tahun.

Sejak 1972, rezim Khadafi melarang partai politik. Media massa nasional pun dibelenggu agar tidak “menyesatkan” rakyat dengan pemberitaan kritis kepada pemerintah. Seperti Mao Zedong di China pada 1960an, Khadafi pada 1975 menerbitkan buku panduan ideologi bagi pejabat dan rakyat Libya. Dia menyebutkan sebagai “Kitab Hijau” (Green Book).

Terbit dalam bahasa Arab, Kitab Hijau menjabarkan tiga paham dasar, yaitu “Demokrasi berdasarkan Kekuasaan Rakyat,” “Ekonomi Sosialisme” dan “Teori Internasional Ketiga.” Paham itu lalu menjadi panduan bagi sistem demokrasi ala Khadafi, sekaligus panduan politik luar negeri Libya yang mengundang kontroversi.

“Kitab Hijau” menolak demokrasi liberal ala Barat, dan mendorong sistem demokrasi langsung berdasarkan pembentukan komite-komite rakyat. Belakangan, sistem ini dikritik sebagai cara Khadafi mengamankan kepentingannya di balik jargon memberdayakan rakyat Libya. [Baca juga artikel Harta di Balik Jubah Sang Kolonel]

Sikap anti Barat-nya kental. Dia menjadi sponsor gerakan anti imperialisme dan zionisme. Pada dekade 70an hingga 90an, Libya bahkan menjadi kawah pelatihan bagi kelompok radikal seperti Brigade Merah dari Jepang, “September Hitam” dari Palestina, MILF dari Filipina, dan IRA dari Irlandia Utara.

Mimpinya tentang Arab bersatu dipengaruhi gagasan Nasser. Khadafi berniat meneruskan Pan Arabisme yang dirintis presiden pertama Mesir itu. Maka, dua tahun setelah Nasser wafat pada 18 September 1970, Khadafi menggagas pendirian “Federasi Republik-republik Arab,” meliputi Libya, Mesir, dan Suriah. Tapi ide itu gagal. Dia mencoba lagi pada 1972, dengan menggandeng Tunisia, tapi usaha itu kempis.

Ironisnya, gagasan itu berlawanan dengan tabiatnya yang suka berkelahi dengan tetangga. Misalnya, pada 1969, tak lama setelah dia berkuasa, Libya berperang dengan Chad. Menurut Gérard Prunier, penulis buku Darfur: a 21st century genocide, alasannya saat itu tak masuk akal: gara-gara presiden Chad saat itu seorang Kristen, dan berkulit hitam. Perang Libya-Chad berakhir pada 1994, melalui keputusan Mahkamah Pengadilan Internasional.

Selain itu, Libya pun sempat baku tembak dengan Mesir selama beberapa hari pada 1977. Soalnya, Khadafi kesal dengan manuver Presiden Mesir saat itu, Anwar Sadat, yang berdamai dengan Israel, setelah keduanya terlibat Perang pada Oktober 1973.

Khadafi memang anti-Israel. Dia bahkan jengkel dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pimpinan Yasser Arrafat. Pada 1995, Khadafi mengusir 30.000 warga Palestina dari Libya, setelah setahun sebelumnya PLO menggelar kesepakatan damai dengan Israel.

Khadafi juga berang dengan Mesir, karena melindungi dua perwira Libya pelaku rencana kudeta atas dirinya pada 1975. Konflik Libya-Mesir yang berlangsung empat hari akhirnya berakhir, setelah ditengahi oleh Aljazair.

Dengan politik yang keras seperti itu Libya di bawah Khadafi akhirnya menjadi sorotan. Dia dibenci Barat karena mensponsori kelompok teroris. Dia dicap menjadi rezim berbahaya, karena diketahui mengembangkan senjata penghancur massal untuk menandingi musuhnya di Barat.

Maka, tak heran Presiden AS, Ronald Reagan, menjuluki dia sebagai “anjing gila”, yang membuat Reagan menghujani Tripoli dan Benghazi dengan serangan bom pada 14 April 1986. Serangan itu terjadi setelah agen-agen Libya diketahui meledakkan suatu klab malam di Berlin, Jerman, pada 5 April 1986. Insiden itu membunuh tiga orang, dan melukai 229 lainnya – lebih dari 50 orang diantaranya tentara Amerika.

Dua tahun kemudian, terjadi tragedi peledakkan atas pesawat Pan American yang terbang di langit Lockerbie, Skotlandia. Ratusan penumpang dan awak pesawat tewas. Agen Libya dituduh terlibat dalam aksi keji itu. Setelah sempat menyangkal, rezim Khadafi belakangan menerima tanggungjawab tragedi di Lockerbie, dan bersedia membayar uang duka kepada keluarga semua korban.

Menjadi jinak

Menurut catatan harian Telegraph, Tragedi Lockerbie tampaknya “petualangan terakhir” Khadafi dalam terorisme internasional. Pada dekade 1990-an, Libya mulai rujuk dengan Barat. Dia rupanya tak tahan hidup, terisolasi, dan banyak musuh, baik dari Barat maupun Arab.

Puncaknya pada 2003, saat Khadafi melucuti semua senjata penghancur massal milik Libya. Sejak saat itu, hubungan Libya membaik, termasuk dengan AS. Bahkan semasa George W. Bush berkuasa, pada 2006 AS mengumumkan Libya tak lagi masuk daftar negara berbahaya. Proyek dan invetasi asing pun mulai mengalir kembali ke Libya.

Hingga Februari 2011, sebenarnya tak ada lagi berita sensasional tentang Khadafi, dan rezimnya. Dia sepertinya tak mau cari gara-gara dengan dunia luar. Khadafi bahkan sesekali diundang ke Barat, dan berpidato di Sidang Majelis Umum PBB di New York pada 2009.

Dia juga menyambangi Perdana Menteri Silvio Berlusconi di Italia pada 2010.

Khadafi pun akrab dengan mantan perdana menteri Inggris, Tony Blair. Dia dikabarkan tak lagi tertarik pada nasionalisme Arab – setelah beberapa kali gagal mewujudkan persatuan Arab. Kini, perhatiannya pada solidarisme sesama negara Afrika. Itu sebabnya, sejumlah pemimpin Afrika mengangkat Khadafi sebagai Ketua Uni Afrika periode 2009-2010.

Nyentrik, tapi kejam

Khadafi kini berusia 68 tahun, dan kian nyentrik. Dia, misalnya, tinggal di tenda setiap kali berkunjung ke luar negeri, dan senang dikelilingi banyak perempuan.  Khadafi lebih suka dikawal pasukan khusus perempuan.

Pada satu lawatan ke Italia beberapa tahun lalu, Khadafi menjamu ratusan perempuan setempat. Dia membujuk mereka menjadi mualaf. Laman spesialis pembocor rahasia diplomatik AS, WikiLeaks, juga mengungkapkan Khadafi punya perawat perempuan asal Ukraina, bertubuh seksi, dan berambut pirang.

Wartawati senior BBC, Katie Adie, selalu teringat sifat nyentrik Khadafi. Saat bertemu untuk wawancara di Tripoli pada 1984, Khadafi memberi Adie dua buah buku, dan satu ucapan. “Buku pertama adalah Kitab Hijau, dan kedua adalah Kitab Suci Al Quran. Setelah itu, dia berucap kepada saya, ‘Selamat Natal’,” kata Adie seperti ditulisnya di harian The Guardian.

Bagi aktivis di Libya, seperti Mohammed al-Abdalla, Khadafi adalah diktator yang brutal. “Era 70-an, saat menghadapi gerakan mahasiswa, Khadafi terang-terangan menggantung para mahasiswa, yang berdemonstrasi di alun-alun Tripoli dan Benghazi,” ujar al-Abdalla, sekrektaris jenderal Front Nasional untuk Keselamatan Libya, seperti dikutip stasiun berita Al Jazeera.

“Dia melakukan eksekusi, yang mungkin paling brutal pernah kami saksikan, atas 1.200 tahanan di penjara Abu Salim. Mereka sudah dipenjara, lalu dieksekusi dalam waktu kurang dari tiga jam,” kata al-Abdalla.

Kini, si kolonel tanpa urat takut, dan kadang ngawur itu, kembali tampil brutal. Sejak 15 Februari lalu, dia menghabisi rakyat yang kini menentangnya. Akankah dia mendengar teriakan rakyat Libya itu?

Satu bekas menterinya yang membelot,  Abdul Fattah Younis al Abidi, mengatakan Khadafi adalah pemimpin ‘keras kepala’.  Abidi mengenal Khadafi sejak 1964. Dia yakin, sang kolonel akan bertindak ekstrim. “Dia akan memilih bunuh diri, atau dibunuh,” kata Abidi. (CNN, Al Jazeera, AP, The Guardian | np)

Sumber: vivanews

Harta di Balik Jubah Sang Kolonel

Berkuasa empat dekade, Khadafi disorot menimbun harta oleh media Barat. Benarkah?

Roket Libya itu sungguh menawan. Desain aerodinamis. Mesin canggih super kuat. Sama dengan kekuatan 230 tenaga kuda. Interior dilapisi jok kulit, juga karpet super mahal. Ruangan cukup lega. Mampu membawa enam penumpang.

Roket itu memang bukan senjata tempur.  Tapi sebuah mobil. Dipamerkan pertama kali  tahun 1999, saat negeri gudang minyak di Afrika Utara itu memperingati 30 tahun revolusi yang meletus 1969.  Ketika itu tentara muda berusia 27 tahun bernama Muammar Khadafi sukses menumbangkan kekuasaan Raja Idris.

Tiga puluh tahun memimpin negeri itu, Khadafi memamerkan mobil mewahnya. Dan dia seperti menantang dunia. Bahwa meski negeri berpenduduk 6,5 juta jiwa ini dikurung dunia dari segala sudut, ekonominya tetap mekar.

Semenjak tahun 1973, negeri itu memang diembargo Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa dengan tuduhan mendukung terorisme. Tahun 2001 Khadafi terlihat mulai patuh pada Washington dan sekutunya. Dua tahun sesudah itu, Khadafi mendukung Amerika Serikat berperang melawan terorisme.

Dia semakin dekat ke Gedung Putih setelah tahun 2003 bersedia menyerahkan simpanan senjata nuklirnya kepada Amerika Serikat. Tahun 2004 Amerika menghentikan embargo. George Walker Bush, memuji Libya sebagai negara yang patut ditiru oleh Iran dan Korea Utara.

Berpuluh tahun jadi musuh Amerika dan sekutunya, Khadafi menjaga diri pada setiap tempat dan waktu. Mobil roket yang dipamerkan itu sohor sebagai mobil paling aman di dunia.

Layaknya mobil-mobil James Bond pada sejumlah film, mobil ini dilengkapi dengan persenjataan elektronik. Bemper tahan benturan keras. Desain menyerupai roket. Itu sebabnya diberi nama The Saroukh el-Jamahiriya, yang artinya Roket Libya. Saat dibeli tahun 1999 itu, harganya diperkirakan 2 juta euro.

Dan si roket itu cuma satu dari puluhan mobil mewah milik keluarga Khadafi.  Uniknya semua mobil itu diberi nama.

Sesudah sukses menghimpun kekuasaan, Khadafi memang gemar menghimpun harta. Selain mobil-mobil mewah itu, dia juga memiliki banyak vila mewah di sejumlah kota di negeri itu.  Hampir semua vila itu berpuluh kamar, dikitari taman yang permai.

Salah satu vila yang paling sohor adalah vila yang berdiri megah di pinggiran Al –Bayda. Itu wilayah timur laut negeri Libya. Menghadap Laut Tengah, vila itu memiliki 40 kamar. Kolam renang mewah. Pohon di taman  diimpor dari berbagai negara. Rumah dan vila mewah seperti itu juga bertebaran di sejumlah negara.

Pria yang dijuluki Presiden Ronald Reagan “Anjing gila’  itu memang sosok penuh antagonis. Dia menjadi pusat kekuasaan, pusat kemewahan tapi sekaligus menjadi pusat kecemasan.

Itu sebabnya, pada hampir semua rumah dan vila mewahnya dia membangun bunker. Di Al-Bayda itu, dia membangun bunker yang dirancang menghadapi serangan nuklir. Itu bunker juga mewah. Bisa bertahan hidup di situ selama beberapa bulan, meski rumah di atasnya luluh lantak.

Khadafi menghimpun kemewahan dari kekayaan minyak negeri itu. Lihatlah data riset  Badan Informasi Energi Amerika Serikat, yang dikutip New York Times, berikut ini. Sepanjang 2009  produksi minyak mentah 1,8 juta barel per hari. Organisasi Pengekspor Minyak Mentah (OPEC) menggolongkan Libya sebagai produsen nomor tujuh. Libya memiliki 4,4 persen dari total cadangan minyak yang telah teruji di lingkungan OPEC.

Minyak mentah itu memikat banyak negara. Sesudah sanksi ekonomi dicabut tahun 2006,  perusahaan minyak dari Amerika dan Eropa berbondong-bondong ke sana menanam uang.

Libya sangat menggantungkan pertumbuhan ekonominya dari pengolahan minyak mentah. Sebagian besar wilayahnya diliputi gurun pasir, sehingga selian minyak,  nyaris tidak ada lagi yang bisa diandalkan.

Minyak mentah itulah yang membuat Libya menjadi  salah satu negara terpandang di Afrika. Menurut riset dari Bank Dunia pada 2009, Libya masuk dalam kelompok “Ekonomi Berpendapatan Menengah ke Atas” karena memiliki pendapatan nasional bruto per kapita sebesar US$12.020.

Bahkan, menurut referensi dari Philips’ Modern School Atlas tahun 1987, pada awal dekade 1980-an, Libya digolongkan sebagai salah satu negara termakmur. Tingkat Produk Domestik Bruto per kapitanya lebih tinggi dari sejumlah negara maju, seperti Italia, Singapura, Korea Selatan, Spanyol, dan Selandia Baru.

Dari Fiat hingga Juventus

Selain menumpuk harta di negeri sendiri, keluarga Khadafi juga membenam uang di banyak negara. Mereka menguasai sejumlah perusahaan strategis, salah satunya adalah Otoritas Investasi Libya (LIA), yang nilai asetnya sekitar US$70 miliar.

Menurut harian The Telegraph, otoritas itu merupakan kendaraan utama bagi Khadafi dan keluarga dalam mengeruk kekayaan. Sebut saja sebagai “Khadafi Inc.” Raksasa LIA itu menampung semua pemasukan dari investor asing di sektor minyak dan gas, yang deras mengalir lima tahun belakangan.

Dari penampungan itu, uang diputar ke sejumlah sektor usaha. Dari pertanian, real estat, infrasturktur, minyak dan gas bumi. Sebagian uang itu dibenam di pasar saham dan obligasi.

Perusahaan ini merambah jauh hingga sejumlah negara di Eropa. Terutama rekan bisnis mereka seperti Italia, Inggris, dan Amerika Serikat. LIA memiliki saham di sejumlah perusahaan Italia, diantaranya Eni, Fiat, Bank Unicredit, dan Finnmeccanica.

Lewat perusahaan perantara, Lafico, perusahaan yang dikendalikan kroni Khadafi itu, membeli 7,5 persen saham klub sepakbola Italia, Juventus senilai US$21 juta. Pada Juli 2008, LIA membeli saham Fortis, yaitu bank patungan milik Belanda dan Belgia, yang saat itu sangat memerlukan dana.

Di Inggris, perusahaan itu memiliki aset sedikitnya 1 miliar poundsterling.  Dari jumlah itu sekitar 300 juta poundsterling masuk bisnis properti di London dan memiliki 3,01 persen saham di grup perusahaan Pearson, pemilik surat kabar The Financial Times.

Di Spanyol, Khadafi dan keluarga memiliki lahan seluas 6.000 hektar di Bennahavis, Spanyol. Lahan itu rencananya untuk membangun 1.915 unit rumah, satu lapangan golf, dan balai sidang.

Selain itu, keluarga Khadafi memiliki sejumlah rekening bank di Swiss dengan jumlah sekitar US$5 miliar. Bukan itu saja,  keluarga Khadafi diduga menyimpan uang di ejumlah lembaga keuangan Austria dengan nilai sekitar US$1,6 miliar.

Repotnya , sebagian besar rakyat justru tidak menikmati kejayaan itu. Kemakmuran hanya milik  segelintir warga, Khadafi sekeluarga berikut kroni-kroninya. Dan Khadafi menutup rapat semua ketimpangan itu.
Lembaga-lembaga internasional dalam dua tahun terakhir kesulitan mendata tingkat kemiskinan di Libya karena ketatnya pengawasan rezim Khadafi.

Namun, suatu harian lokal di Libya, Oea, pada 2009 mengungkapkan bahwa tingkat pengangguran di Libya saat itu sudah mencapai 20,74 persen. Selain itu, menurut Oea, lebih dari 16 persen dari 886.978 keluarga di Libya tidak memiliki penghasilan yang tetap. Tidak hanya itu, lebih dari 33.000 keluarga di seluruh negeri itu diketahui tidak memiliki tempat tinggal tetap.

Kini Khadafi terkurung oleh harta yang dihimpun selama 40 tahun itu.Di tengah kesulitan ekonomi yang menghimpit, puluhan ribuan rakyat turun ke jalan. Menuntut Khadafi mundur. Vila mewah yang menghadap Laut Tengah di Al-Bayda itu dijarah massa. Sejumlah aset lain dirusak dan dibakar.

Para musuh itu sudah menguasai sejumlah kota besar. Mereka sedang merangsek menuju jantung kekuasaan Khadafi, Tripoli. Bahkan di timur ibu negeri itu, rakyat dan para serdadu yang membelot siaga berperang. Mereka mengendarai tank, bersenjata lengkap dan memanggul roket. Yang ini roket tempur, bukan mobil mewah.(AP, NYT|wm)

Sumber: vivanews

Mobil Teraman di Dunia Milik Khadafi

Mobil ini dinamakan The Saroukh el-Jamahiriya (Roket Libya).

Mobil koleksi Muammar Khadafi (Autoblog)
Nama pemimpin Libya Muammar Khadafi kian meroket seiring meluasnya tuntutan mundur kolonel yang berkuasa lebih dari 40 tahun ini. Sebagai sosok penuh kontroversi, mungkin Khadafi sadar akan banyaknya musuh yang berusaha membunuhnya. Karena itulah Khadafi memiliki mobil teraman, yang bahkan dia desain sendiri.

Mobil yang diklaim Libya sebagai mobil teraman di dunia ini dinamakan The Saroukh el-Jamahiriya(Roket Libya). Dinamakan demikian, karena bodi mobil dibuat dengan desain menyerupai roket.

Dengan desain aerodinamis layaknya mobil-mobil milik James Bond, seperti dikutip dari BBC, mobil ini telah dimiliki Khadafi sejak tahun 1999 silam. Khadafi memperlihatkan mobil ini pertama kali saat acara 30 tahun revolusi Libya, sekitar 11 tahun silam.

 

 

Bicara keamanan, mobil dilengkapi sistem pertahanan elektronik. Namun tidak dijelaskan, apa saja yang mampu dilakukan sistem pertahanan elektronik tersebut. Selain itu, mobil juga dilengkapi bemper yang didesain tahan terhadap benturan keras dan air bag.

Mobil ini berkapasitas lima penumpang dan menggunakan mesin V6/230 horse power. Interiornya dilengkapi jok kulit dan karpet khas Libya. Diperkirakan, mobil ini dijual sekitar 2 Juta Euro pada 1999 silam. (umi)

Sumbervivanews

Seberapa Kaya Penduduk Libya?

Libya merupakan penghasil minyak terbesar ketiga di Afrika, setelah Nigeria dan Angola.
Sejumlah rakyat Libya memprotes Muammar Khadafi agar mundur dari jabatannya. (AP Photo/ Alastair Grant)

Libya, negeri sosialis yang dipimpin Muammar Khadafi terkenal sebagai gudang minyak. Kekayaan alam yang melimpah membuat negeri di Afrika Utara ini menjadi eksportir minyak terbesar dunia ke-12.

Penghasil minyak terbesar ketiga di Afrika, setelah Nigeria dan Angola, ini memiliki cekungan Sirte yang merupakan penyokong terbesar produksi minyak Libya. Cekungan ini mengandung 44 miliar barel atau sekitar 80 persen dari cadangan minyak negara itu. Cadangan cekungan ini terbesar di Afrika.

Minyak Libya terkenal dengan jenis Light Sweet dengan kandungan sulfur yang rendah. Minyak mentah ini sangat ideal diolah menjadi bensin dan solar. Meski tak ada data resmi, diperkirakan hampir 95 persen produksi minyak dan gas alam Libya diekspor.

Bank Dunia mencatat, lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) Libya diperoleh dari industri minyak dan gas. Pada 2009, PDB Libya sebesar US$62,36 miliar. Dengar penduduk yang hanya 6,4 juta, pendapatan per kapita negeri itu US$12.020. Sangat tinggi bila dibandingkan dengan Indonesia yang pada 2010 saja, baru US$3.000.

Mengenai kemiskinan, Bank Dunia tak memiliki datanya. Mereka hanya melaporkan penduduk bebas buta huruf di Libya sebesar 88 persen pada 2008.

Sebelum kerusuhan dimulai, perekonomian negara itu sedang booming. Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan perekonomian Libya tahun lalu tumbuh 10,6 persen dan diproyeksikan akan tumbuh 6,2 persen pada tahun ini.

Namun, salah satu alasan terjadinya protes besar warga yang menghendaki Khadafi mundur adalah kekayaan minyak itu tak menetes sampai penduduk umum. Menurut beberapa perkiraan, seperti dikutip dari kantor berita BBC, sekitar sepertiga penduduk Libya hidup dalam kemiskinan.

Penduduk Libya sudah lazim memiliki dua pekerjaan untuk meningkatkan pendapatan mereka. Meski biaya kesehatan dan pelayanan masyarakat di sana gratis, tetap saja belum membantu standar hidup mereka. (hs)

Sumber: vivanews