Kekuatan Wanita Cantik di Balik Kuasa Khadafi

“Berlusconi membantu Khadafi dengan mengirim dua wanita penggoda yang cantik.”
Muammar Khadafi Pemimpin Libya (therealtimer.com)
Pemimpin Libya Muammar Khadafi menghalalkan segala cara demi kekuasaan. Ia membiarkan warganya saling bunuh demi melanggengkan kekuasaannya yang telah menginjak tahun ke-41. Ia pun pernah mengandalkan wanita penggoda demi jabatan pemimpin Uni Afrika.

Mantan pembantu dekat Khadafi, Nuri Al Mismari, membeberkan rahasia soal wanita penggoda itu dalam wawancara dengan surat kabar Arab,Ashaeq Al-Awsat, di Paris. Mismari menjabat sebagai diplomat Khadafi selama 35 tahun sebelum meninggalkan Libya dan mengasingkan diri ke Paris, tahun lalu.

Mismari mengatakan bahwa Perdana Menteri Italia, Silvio Berlusconi, terlibat dalam permainan kotor itu. Berlusconi membantu Khadafi mengatur pengiriman wanita penggoda kepada dua pemimpin negara yang tergabung dalam Uni Afrika. Namun, Mismari menolak menyebut pemimpin negara Afrika tersebut.

Mismari hanya mengatakan bahwa wanita cantik pilihan Berlusconi bertugas merayu dua pemimpin negara di Afrika agar mendukung Khadafi sebagai pemimpin Uni Afrika pada pemilihan Februari 2009. Dua pemimpin negara tersebut sempat menentang Khadafi memimpin organisasi yang beranggotakan 53 negara Afrika.

Khadafi dan Berlusconi tampaknya memiliki kedekatan personal yang baik. Berlusconi yang tengah terbelit skandal seks itu baru mengutuk tindakan brutal Khadafi membantai warganya sendiri setelah mendapat kritik keras dari kaum oposisi di Italia.

“Berlusconi membantu mengatasi situasi dan mengamankan posisi Khadafi dengan mengirim dua wanita penggoda yang cantik,” kata Mismari, seperti dikutip dari lamanTelegraph. Di akhir wawancara Mismari menyatakan malu pernah bekerja untuk rezim Khadafi.

Sumber: vivanews

Kegilaan Kolonel Khadafi

Dia pernah dibenci Barat, tapi lalu jinak. Anti imperialisme, dan suka tidur di tenda.
Muammar Khadafi Pemimpin Libya (AP Photo/ Ben Curtis)
Muammar Khadafi adalah seorang kolonel tanpa urat takut.  Pada 1969, di usia muda, dengan nyali yang menyala, dia menjungkalkan tahta raja Libya, satu kudeta yang berhasil, dan membalikkan gerak sejarah negeri itu.

Dia tampil sebagai revolusioner nekad, meski kerap juga ngawur. Kini, setelah 41 tahun berkuasa, Khadafi tak juga gentar. Dia tahu, hari-hari ini di sekujur tanah Arab para tiran terancam terguling oleh pergolakan rakyat.

Tapi Khadafi yang lama menjadi antagonis–dia rajin berkelahi dengan tetangganya sesama bangsa Arab, kini seperti hendak menegaskan kembali wataknya yang keras kepala.

Berdiam di tenda, dia pernah menyambut gencarnya bom Amerika Serikat pada 1986,  dengan tenang. Barangkali, itu sebabnya, ketika demonstrasi kian hebat menuntut dia mundur, Khadafi melihat gerak protes tak bersenjata itu seperti sebuah ancaman militer. Warga sipil Libya, yang menuntut perubahan itu, dihajarnya dengan jet tempur.

Kini, tanpa rasa bersalah, pemimpin bernama lengkap Muammar Muhammad al-Khadafi itu nekad menembaki rakyat sendiri.

Konflik di Libya, kata banyak pengamat, tak akan terjadi bila tak ada pergolakan di Tunisia dan Mesir. Dua tetangga mengapit Libya itu berhasil menjungkalkan rezim yang kelewat lama berkuasa di negeri mereka. Revolusi adalah gagasan yang menular, dan momen itu dimanfaatkan oposisi di Libya melawan rezim Khadafi.

“Kemarin Ben Ali [Tunisia], hari ini Mubarak [Mesir]. Selanjutnya harus Khadafi,” ujar seorang pemrotes di Kota Benghazi, tak lama setelah mendengar pengumuman Presiden Mesir, Hosni Mubarak, berhasil dipaksa mundur pada 11 Februari lalu.

Tapi Khadafi adalah kolonel yang hanya mendengar dirinya sendiri. “Mereka main keras, saya juga main keras. Saya akan bertahan hingga tetes darah terakhir” ujar Khadafi seperti dikutip kantor berita Associated Press.

Dia lalu menuding siapa saja yang menyebar kebencian atas dirinya, mulai dari negara-negara Barat pimpinan Amerika Serikat hingga jaringan teroris al-Qaidah. Pekan lalu, dia seperti meracau, mengatakan semua rakyat Libya mencintai dia. Washington pun menilai Khadafi “melantur”. Tak ada kata lain bagi Khadafi, kata Gedung Putih, selain dari turun dari kekuasaan.

Korban jiwa pun berjatuhan di Libya. Menurut Duta Besar Libya untuk PBB, Ali Suleiman Aujali, lebih dari 2.000 orang tewas dalam dua pekan terakhir. Warga yang melawan itu tumbang diberondong peluru tajam oleh milisi pro-Khadafi, yang kebanyakan adalah tentara bayaran dari Chad.

Khadafi akrab dengan kekerasan. Begitu meraih kekuasaan, dia bertahan selama 40 tahun lebih, dengan cara brutal. Tak heran, bila dia kini memakai segala cara, mulai dari menyewa milisi bayaran, hingga memberikan sogokan akan menaikkan gaji pegawai negeri sebesar 150 persen, dan memberi santunan tunai bagi keluarga yang loyal.

Mungkin karena berpengalaman menghadapi kudeta dalam negeri, Khadafi tak takut ancaman dari negara Barat, yang menyerang Libya dengan operasi militer. Dia pernah mengalaminya pada 1986, saat rumahnya dihajar bom oleh jet tempur Amerika. Banyak pengikutnya, termasuk anak angkatnya, tewas. Tapi Khadafi lolos dari maut. Dia terus melawan.

Seorang diplomat Libya, bekas penerjemah Khadafi yang kini mengajar di AS, Abubakar Saad, juga menyarankan cara keras, bila dia tetap tak bisa diajak kompromi. “Bila ada pemimpin tak mau berkompromi, atau bahkan tak mau duduk, dan berdialog, satu-satunya alternatif adalah menyingkirkan dia, membunuhnya mengakhiri situasi ini,” kata Saad seperti dikutip Voice of America.

Di gurun pasir

Khadafi besar dalam angin padang pasir yang keras. Dia lahir di suatu tenda Badui, di gurun pasir dekat Kota Sirt, pada 1942. Dia berasal dari suku kecil turunan Berber Arab, yaitu Khadafa.

Tumbuh saat dunia Arab sedang bergolak, Khadafi tampaknya menyerap semua konflik itu ke jagad kecilnya. Di Palestina, konflik berlarat-larat setelah Yahudi membentuk negara Israel pada 1948. Dia juga larut dalam gelora nasionalisme Arab, yang diteriakkan pemimpin Mesir Gammal Abdul Nasser, pada 1952.

Bersekolah di madrasah setempat, Khadafi kecil telah menaruh minat besar pada sejarah. Selesai menjalani pendidikan lanjut, Khadafi terjun ke dunia militer. Di Libya pada saat itu, menjadi tentara adalah peluang emas memperbaiki taraf hidup bagi keluarga kurang mampu. Itu sebabnya, masuk militer adalah pilihan bagi  anak-anak muda miskin seperti Khadafi.

Pada 1961, Khadafi masuk ke akademi militer. Dia lulus lima tahun kemudian. Dianggap punya prospek cemerlang, Khadafi terpilih ikut pendidikan militer lanjutan selama beberapa bulan di Akademi Militer Inggris, Sandhurst. Dia pun menerima pelatihan militer di Athena, Yunani.

Sebagai perwira muda, Khadafi malu melihat negara Arab, yaitu Mesir, Suriah, dan Yordania, kalah perang dengan Israel di tiga front pada 1967. Dia kian geram, karena Raja Idris I dari Libya, hanya berpangku tangan melihat sesama bangsa Arab dipermalukan Israel dalam Perang Enam Hari.

Khadafi lalu bertekad menggulingkan Raja Idris.

Peluang itu tiba pada 1 September 1969. Saat itu, Raja Idris sedang ke Yunani untuk berobat. Muncul kabar, karena sering sakit-sakitan, Raja Idris akan lengser.  Dia menyerahkan kekuasaan kepada keponakannya, yang menjadi putra mahkota, Sayyid Hasan ar-Rida al-Mahdi as-Sanusi, atau Hasan as-Sanusi.

Tanggal penyerahaan tahta dari Raja Idris kepada Pangeran Hassan berlangsung pada 2 September 1969. Sehari sebelum ritual penyerahan tahta, saat Idris masih di luar negeri, Khadafi bergerak. Dia mengumumkan di radio, Libya berada di tangan Dewan Revolusi yang akan menyelamatkan negara dari kekosongan kekuasaan.

Junta militer pimpinan Khadafi lalu menangkap kepala staf militer dan kepala keamanan, yang setia dengan Raja Idris. Sang Raja terhenyak. Dia tak bisa lagi pulang, hingga wafat di Mesir pada 1983.

Stasiun berita BBC menceritakan bagaimana Khadafi, perwira 27 tahun namun telah berpangkat kolonel, secara cemerlang melakukan kudeta tak berdarah. “Kudeta itu hanya memuntahkan beberapa peluru,” tulis BBC.

Nasib calon raja yang batal, Hasan as-Sanusi lebih buruk. Dia menjadi tahanan rumah, dan sempat dipenjara selama tiga tahun pada 1971. Hasan dan keluarga diusir dari rumah mereka pada 1984.

Hasan harus menggelandang di pantai, hingga diserang stroke. Khadafi mengizinkannya berobat ke London, Inggris. Hasan pun  meninggal di sana. Dia dikuburkan di sebelah makam Raja Idris, di Madinah, Arab Saudi.

Kitab Hijau

Setelah menyingkirkan kekuatan lama, pada  awal berkuasa, rezim Khadafi melakukan perubahan besar. Kerajaan Libya dibubarkan. Dia lalu membentuk Republik Sosialis Arab, dengan nama resmi Republik Rakyat Sosialis Agung Jamahiriya Arab Libya.

Bendera nasional pun diganti, dari gabungan warna merah, hitam, dan hijau, dengan lambang bintang dan bulan sabit di tengah-tengah, menjadi warna hijau polos.

Khadafi pun tak menyatakan diri sebagai presiden atau raja.  Dia menabalkan dirinya seorang “brother leader”, dan sang pemandu revolusi. Dia sempat menjabat perdana menteri selama 1970-1972. Sebagai pemimpin belia, Khadafi menunjukkan kepada bangsa Arab, perubahan radikal sedang bergerak di Libya.

Sistem pemerintahan Libya dirombak. Menurut kajian Library of Congress pada 1987 berjudul “Government and Politics of Libya”, Libya dipimpin dua pilar utama, yang disebut dengan sektor.

Salah satu pilar, yaitu “Sektor Revolusioner,” terdiri dari Khadafi sebagai pemimpin Revolusi, Komite Revolusi, dan Dewan Komando Revolusi, yang beranggotakan 12 orang. Mereka inilah inti kekuasaan di Libya karena para komite dan dewan tidak dipilih, melainkan ditunjuk, serta tak ada masa bakti.

Pilar lain adalah “Sektor Jamahiriyah”, adalah Kongres Rakyat mewakili 1.500 wilayah, dan 32 anggota Kongres Rakyat Sha’biyat. Mereka dilihat sebagai lembaga legislatif. Para anggotanya dipilih setiap empat tahun.

Sejak 1972, rezim Khadafi melarang partai politik. Media massa nasional pun dibelenggu agar tidak “menyesatkan” rakyat dengan pemberitaan kritis kepada pemerintah. Seperti Mao Zedong di China pada 1960an, Khadafi pada 1975 menerbitkan buku panduan ideologi bagi pejabat dan rakyat Libya. Dia menyebutkan sebagai “Kitab Hijau” (Green Book).

Terbit dalam bahasa Arab, Kitab Hijau menjabarkan tiga paham dasar, yaitu “Demokrasi berdasarkan Kekuasaan Rakyat,” “Ekonomi Sosialisme” dan “Teori Internasional Ketiga.” Paham itu lalu menjadi panduan bagi sistem demokrasi ala Khadafi, sekaligus panduan politik luar negeri Libya yang mengundang kontroversi.

“Kitab Hijau” menolak demokrasi liberal ala Barat, dan mendorong sistem demokrasi langsung berdasarkan pembentukan komite-komite rakyat. Belakangan, sistem ini dikritik sebagai cara Khadafi mengamankan kepentingannya di balik jargon memberdayakan rakyat Libya. [Baca juga artikel Harta di Balik Jubah Sang Kolonel]

Sikap anti Barat-nya kental. Dia menjadi sponsor gerakan anti imperialisme dan zionisme. Pada dekade 70an hingga 90an, Libya bahkan menjadi kawah pelatihan bagi kelompok radikal seperti Brigade Merah dari Jepang, “September Hitam” dari Palestina, MILF dari Filipina, dan IRA dari Irlandia Utara.

Mimpinya tentang Arab bersatu dipengaruhi gagasan Nasser. Khadafi berniat meneruskan Pan Arabisme yang dirintis presiden pertama Mesir itu. Maka, dua tahun setelah Nasser wafat pada 18 September 1970, Khadafi menggagas pendirian “Federasi Republik-republik Arab,” meliputi Libya, Mesir, dan Suriah. Tapi ide itu gagal. Dia mencoba lagi pada 1972, dengan menggandeng Tunisia, tapi usaha itu kempis.

Ironisnya, gagasan itu berlawanan dengan tabiatnya yang suka berkelahi dengan tetangga. Misalnya, pada 1969, tak lama setelah dia berkuasa, Libya berperang dengan Chad. Menurut Gérard Prunier, penulis buku Darfur: a 21st century genocide, alasannya saat itu tak masuk akal: gara-gara presiden Chad saat itu seorang Kristen, dan berkulit hitam. Perang Libya-Chad berakhir pada 1994, melalui keputusan Mahkamah Pengadilan Internasional.

Selain itu, Libya pun sempat baku tembak dengan Mesir selama beberapa hari pada 1977. Soalnya, Khadafi kesal dengan manuver Presiden Mesir saat itu, Anwar Sadat, yang berdamai dengan Israel, setelah keduanya terlibat Perang pada Oktober 1973.

Khadafi memang anti-Israel. Dia bahkan jengkel dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pimpinan Yasser Arrafat. Pada 1995, Khadafi mengusir 30.000 warga Palestina dari Libya, setelah setahun sebelumnya PLO menggelar kesepakatan damai dengan Israel.

Khadafi juga berang dengan Mesir, karena melindungi dua perwira Libya pelaku rencana kudeta atas dirinya pada 1975. Konflik Libya-Mesir yang berlangsung empat hari akhirnya berakhir, setelah ditengahi oleh Aljazair.

Dengan politik yang keras seperti itu Libya di bawah Khadafi akhirnya menjadi sorotan. Dia dibenci Barat karena mensponsori kelompok teroris. Dia dicap menjadi rezim berbahaya, karena diketahui mengembangkan senjata penghancur massal untuk menandingi musuhnya di Barat.

Maka, tak heran Presiden AS, Ronald Reagan, menjuluki dia sebagai “anjing gila”, yang membuat Reagan menghujani Tripoli dan Benghazi dengan serangan bom pada 14 April 1986. Serangan itu terjadi setelah agen-agen Libya diketahui meledakkan suatu klab malam di Berlin, Jerman, pada 5 April 1986. Insiden itu membunuh tiga orang, dan melukai 229 lainnya – lebih dari 50 orang diantaranya tentara Amerika.

Dua tahun kemudian, terjadi tragedi peledakkan atas pesawat Pan American yang terbang di langit Lockerbie, Skotlandia. Ratusan penumpang dan awak pesawat tewas. Agen Libya dituduh terlibat dalam aksi keji itu. Setelah sempat menyangkal, rezim Khadafi belakangan menerima tanggungjawab tragedi di Lockerbie, dan bersedia membayar uang duka kepada keluarga semua korban.

Menjadi jinak

Menurut catatan harian Telegraph, Tragedi Lockerbie tampaknya “petualangan terakhir” Khadafi dalam terorisme internasional. Pada dekade 1990-an, Libya mulai rujuk dengan Barat. Dia rupanya tak tahan hidup, terisolasi, dan banyak musuh, baik dari Barat maupun Arab.

Puncaknya pada 2003, saat Khadafi melucuti semua senjata penghancur massal milik Libya. Sejak saat itu, hubungan Libya membaik, termasuk dengan AS. Bahkan semasa George W. Bush berkuasa, pada 2006 AS mengumumkan Libya tak lagi masuk daftar negara berbahaya. Proyek dan invetasi asing pun mulai mengalir kembali ke Libya.

Hingga Februari 2011, sebenarnya tak ada lagi berita sensasional tentang Khadafi, dan rezimnya. Dia sepertinya tak mau cari gara-gara dengan dunia luar. Khadafi bahkan sesekali diundang ke Barat, dan berpidato di Sidang Majelis Umum PBB di New York pada 2009.

Dia juga menyambangi Perdana Menteri Silvio Berlusconi di Italia pada 2010.

Khadafi pun akrab dengan mantan perdana menteri Inggris, Tony Blair. Dia dikabarkan tak lagi tertarik pada nasionalisme Arab – setelah beberapa kali gagal mewujudkan persatuan Arab. Kini, perhatiannya pada solidarisme sesama negara Afrika. Itu sebabnya, sejumlah pemimpin Afrika mengangkat Khadafi sebagai Ketua Uni Afrika periode 2009-2010.

Nyentrik, tapi kejam

Khadafi kini berusia 68 tahun, dan kian nyentrik. Dia, misalnya, tinggal di tenda setiap kali berkunjung ke luar negeri, dan senang dikelilingi banyak perempuan.  Khadafi lebih suka dikawal pasukan khusus perempuan.

Pada satu lawatan ke Italia beberapa tahun lalu, Khadafi menjamu ratusan perempuan setempat. Dia membujuk mereka menjadi mualaf. Laman spesialis pembocor rahasia diplomatik AS, WikiLeaks, juga mengungkapkan Khadafi punya perawat perempuan asal Ukraina, bertubuh seksi, dan berambut pirang.

Wartawati senior BBC, Katie Adie, selalu teringat sifat nyentrik Khadafi. Saat bertemu untuk wawancara di Tripoli pada 1984, Khadafi memberi Adie dua buah buku, dan satu ucapan. “Buku pertama adalah Kitab Hijau, dan kedua adalah Kitab Suci Al Quran. Setelah itu, dia berucap kepada saya, ‘Selamat Natal’,” kata Adie seperti ditulisnya di harian The Guardian.

Bagi aktivis di Libya, seperti Mohammed al-Abdalla, Khadafi adalah diktator yang brutal. “Era 70-an, saat menghadapi gerakan mahasiswa, Khadafi terang-terangan menggantung para mahasiswa, yang berdemonstrasi di alun-alun Tripoli dan Benghazi,” ujar al-Abdalla, sekrektaris jenderal Front Nasional untuk Keselamatan Libya, seperti dikutip stasiun berita Al Jazeera.

“Dia melakukan eksekusi, yang mungkin paling brutal pernah kami saksikan, atas 1.200 tahanan di penjara Abu Salim. Mereka sudah dipenjara, lalu dieksekusi dalam waktu kurang dari tiga jam,” kata al-Abdalla.

Kini, si kolonel tanpa urat takut, dan kadang ngawur itu, kembali tampil brutal. Sejak 15 Februari lalu, dia menghabisi rakyat yang kini menentangnya. Akankah dia mendengar teriakan rakyat Libya itu?

Satu bekas menterinya yang membelot,  Abdul Fattah Younis al Abidi, mengatakan Khadafi adalah pemimpin ‘keras kepala’.  Abidi mengenal Khadafi sejak 1964. Dia yakin, sang kolonel akan bertindak ekstrim. “Dia akan memilih bunuh diri, atau dibunuh,” kata Abidi. (CNN, Al Jazeera, AP, The Guardian | np)

Sumber: vivanews

Moammar Khadafi, Pemilik Saham Juventus dan Fiat

Pada Januari 2002, Khadafi membeli 7,5 persen saham Juventus melalui Lafico.

Moammar Khadafi (AP Photo/Nasser Nasser)

 

Moammar Khadafi sukses memimpin kudeta pada 1969 yang menggulingkan Raja Idriss. Sejak saat itu, Khadafi yang dilahirkan gurun Sirte, pada 1942, memimpin Libya. Namun, meski lama memimpin, tidak banyak yang mengetahui berapa kekayaan pemimpin yang dikenal anti-Barat tersebut.

Laman Jewishvirtuallibrary.org melaporkan, setidaknya Khadafi memiliki saham di dua perusahaan Italia, yaitu klub sepak bola Juventus dan perusahaan mobil Fiat.

Pada Januari 2002, Khadafi membeli 7,5 persen saham Juventus melalui Libyan Arab Foreign Investment Company (Lafico). Nilai akuisisi itu mencapai US$21 juta atau sekitar Rp189 miliar.

Jauh sebelumnya, pada 1976, Khadafi berkongsi dengan Fiat. Saat itu, Fiat sedang mengalami masalah keuangan setelah kalah bersaing dengan produsen-produsen mobil global.

Khadafi masuk dengan menanamkan investasi senilai US$415 juta atau sekitar Rp3,7 triliun. Khadafi menguasai 10 persen saham Fiat. Sayangnya, sulit menemukan laporan apakah Khadafi masih menguasai saham-saham itu atau tidak.

Demikian juga dengan bisnis anak-anaknya, juga tidak banyak terekam media. Anak-anak Khadafi lebih banyak berkecimpung di bidang militer dan olahraga. Anak pertama dari istri pertama misalnya, Muhammad Al-Gaddafi (Khadafi) lebih banyak mengurus Komite Olimpiade Libya.

Anak tertua berikutnya dari istri kedua, adalah Saif Al-Islam Muammar Al-Gaddafi, yang lahir pada 1972 merupakan arsitek. Dia lebih banyak menjalankan amal melalui Gaddafi International Foundation for Charity Associations (GIFCA).

Pada 2006, dia meninggalkan Libya dan bekerja di bidang perbankan, dan tidak lama kemudian, dia kembali ke Libya mengkampanyekan program ramah lingkungan.

Anak ketiga, Saadi Gaddafi, menikah dengan putri seorang komandan militer. Saadi menjalankan Federasi Sepakbola Libya serta menangani tim UC Sampdoria di Seri A Italia.

Anak keempatnya, Mutassim Gaddafi, adalah Letnan Kolonel di militer Libya. Dia sekarang menjabat Penasihat Keamanan Nasional. Saif Al-Islam dan Mutassim ini yang dulunya diperkirakan sebagai penerus Khadafi.

Kelima, Hannibal Gaddafi pernah bekerja untuk General National Maritime Transport Company, sebuah perusahaan ekspor minyak Libya. Ia paling terkenal karena terlibat dalam serangkaian insiden kekerasan di Eropa.

Pada 2001, Hannibal menyerang tiga polisi Italia dengan alat pemadam api. Pada September 2004, dia ditahan di Paris setelah mengendarai Porsche dengan kecepatan 144 kilometer per jam pada jalur yang berlawanan arah dan menerjang lampu merah. Hannibal diduga mengendarai mobil dalam keadaan mabuk.

Putra bungsu kedua, adalah Saif Al-Arab dan Khamis, mereka adalah polisi di Libya.

Terakhir, adalah Aisyah al-Gaddafi. Anak perempuan satu-satunya ini memilih jadi pengacara. Dia pernah bergabung dengan tim pembela mantan pemimpin Irak, Saddam Hussein.

Sementara itu, putri adopsinya, Hanna, tewas dalam pemboman April 1986 di rumahnya di Tripoli. Pemboman ini diduga dilakukan militer Amerika Serikat. (art)

Sumber: vivanews

Dimana Kekayaan Muammar Khadafi Disimpan?

Libya menanamkan investasi di real estat, telekomunikasi, hingga klub sepak bola.
Dalam rentang beberapa tahun, gurita keuangan pemerintah Libya telah mencapai seberang lautan. Lintas batas dan lintas benua.

Amerika Serikat, Inggris, Swiss, dan Uni Eropa baru saja membekukan miliaran dolar aset pemerintah Libya dan pemimpin Muammar Khadafi serta keluarganya. Ini merupakan buntut kekerasan militer terhadap pengunjuk rasa anti-Khadafi.

Kantor berita CNN melaporkan, hasil eksploitasi minyak Libya diinvestasikan ke lebih dari 35 negara di empat benua. Libya menanamkan investasi mulai dari real estat, perusahaan telekomunikasi, hotel, hingga klub sepak bola.

Libya juga telah menginvestasikan ratusan juta dolar di negara berpenduduk miskin di Afrika. Bahkan, pemerintah Libya memiliki saham di Commercial Bank of Zimbabwe Ltd.

Investasi Libya yang disimpan di bank-bank investasi ternama di Amerika Serikat, memuncak menjadi miliaran dolar. “Libya terbiasa dengan fakta. Mereka memiliki banyak sekali uang tunai di tangan untuk berinvestasi,” kata Ashby Monk, seorang peneliti di Oxford University yang mengkhususkan diri pada kekayaan milik negara.

Kekayaan Libya terdongkrak dengan harga minyak yang tinggi. Belum lagi, minyaknya yang terkenal dengan kualitas tinggi.

Sebenarnya, hingga pertengahan dekade terakhir, investasi dibatasi akibat sanksi internasional. Hanya beberapa perusahaan yang mengeksploitasi di sana, yaitu Eni Italia, perusahaan asal Australia Österreichische Mineralölverwaltung, dan Repsol dari Spanyol.

Namun, ketika sanksi internasional dicabut, Libya mengundang lebih banyak perusahaan untuk mengeksploitasi sumber minyak. BP dari Inggris dan Shell dari Belanda menandatangani kesepakatan eksploitasi, bersama perusahaan lain seperti Statoil dari Norwegia dan Gazprom dari Rusia yang membeli operasi Eni di negara itu.

Saat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencabut sanksi pada 2003, pemerintah Libya hanya memiliki kekayaan US$60 miliar. Namun, kini Libyan Investment Authority telah setara dengan perusahaan-perusahaan besar dunia.

Negara ini juga menggunakan Bank Sentral Libya dan Libyan Foreign Bank sebagai saluran berinvestasi yang berfokus pada investasi domestik dan Afrika.

Berikut adalah sebaran aset Libya yang dikumpulkan CNN berdasarkan dokumen-dokumen publik, sumber-sumber yang akrab dengan investasi Libya, serta dokumen-dokumen yang dipublikasikan oleh WikiLeaks.

Amerika Utara
Libyan Investment menggunakan sistem keuangan AS untuk mendapatkan saham-saham yang sebagian besar berisiko rendah, sekuritas berjangka pendek, dan dana-dana tunai.

Mohamed Layas, kepala Libyan Investment, mengatakan kepada pihak berwenang AS pada Januari 2010 bahwa Libya memiliki likuiditas sekitar US$32 miliar yang tersimpan di bank-bank AS. Jumlah itu setara dengan yang dibekukan Departemen Keuangan AS awal pekan ini. Demikian menurut kawat diplomatik AS yang bocor ke WikiLeaks.

Masih pada Januari 2010, Layas mengatakan, Libya telah membagi dana US$32 miliar itu menjadi pecahan-pecahan US$300 juta hingga US$500 juta, yang saat itu dikelola oleh puluhan bank di seluruh AS.

Libya bahkan menginvestasikan lebih dari US$300 juta ke bank investasi yang sekarang bubar, Lehman Brothers, setidaknya begitu menurut arsip pengadilan kepailitan AS. Libya tengah berjuang di pengadilan untuk memulihkan kerugian itu.

Di Kanada, Libya membuat satu perusahaan ekuitas-swasta pertama dengan membeli Verenex Energy sekitar US$320 juta pada 2009. Kesepakatan tersebut penting karena Verenex merupakan salah satu perusahaan publik pertama yang mengebor minyak di Libya setelah sanksi PBB dicabut.

Eropa dan Inggris
Libya menempatkan sebagian besar uang tunai di Eropa dan Inggris. Ini merupakan pilihan kedekatan geografis. Direktur Eksekutif Libyan Investment juga mengatakan, Libya memiliki keinginan berinvestasi di Inggris karena, sistem pajak yang sederhana, demikian menurut kawat yang bocor ke WikiLeaks.

Di Italia, yang merupakan mantan penguasa kolonial Libya, Libyan Investment memiliki saham perusahaan-perusahaan Italia, seperti raksasa minyak Eni, kontraktor pertahanan Finmeccanica, dan UniCredit, bank terbesar di Italia. Libyan Investment juga memiliki 7,5 persen saham di Juventus.

Di Inggris, Libyan Investment memiliki 3,3 persen saham di Pearson, pemilik Financial Times dan Penguin Publishing. Otorita itu juga memiliki saham di beberapa perusahaan properti komersial Inggris.

Tak hanya itu, Libya juga punya portofolio aset-aset yang terkait dengan minyak di Eropa melalui Libyan Investment, yang terdiri atas tiga kilang dan 3.000 pompa bensin di seluruh benua itu. Demikian menurut pidato Layas di London, pada 2008.

Sejak kekerasan meletus di Libya, Pearson membekukan saham dan dividen Libya sampai pemberitahuan lebih lanjut, dan Juventus mengatakan akan memantau perkembangan di negara Afrika Utara itu.

Afrika
Melalui puluhan bank investasi kecil yang tersebar di seluruh Afrika, Libya telah membeli saham puluhan perusahaan telekomunikasi dan infrastruktur di Afrika. Beberapa di antaranya berada di negara-negara yang tidak stabil, seperti Uganda dan Zimbabwe.

Kepala Eksekutif Sovereign Wealth Fund Institute, Michael Maduell, mengatakan, investasi Libya di Afrika memainkan dua peran. Pertama, karena Afrika berjuang agar Libya mendapatkan investor selama bertahun-tahun, dan Libya telah menjadi sumber utama modal di benua itu.

“Kedua, investasi di Afrika telah membantu menyokong citra Khadafi sebagai ‘bapak’ Afrika,” katanya. (art)

Sumbervivanews