8 Lies of a Mother..

1. This story begins when I was a child: I was born poor. Often we hadn’t enough to eat. Whenever we had some food, Mother often gave me her portion of rice. While she was transferring her rice into my bowl, she would say “Eat this rice, son! I’m not hungry.”

This was Mother’s First Lie.

2. As I grew, Mother gave up her spare time to fish in a river near our house; she hoped that from the fish she caught, she could give me a little bit more nutritious food for my growth. Once she had caught just two fish, she would make fish soup. While I was eating the soup, mother would sit beside me and eat what was still left on the bone of the fish I had eaten; My heart was touched when I saw it. Once I gave the other fish to her on my chopstick but she immediately refused it and said, “Eat this fish, son! I don’t really like fish.”

Continue reading

Anda Pemarah?? Belajarlah dari Paku

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah-marah tersebut, sang ayah memberikannya sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah.

Hari pertama anak itu telah memakukan 30 paku ke pagar setiap kali dia marah… memang terkenal temperamen, sampai-sampai sehari saja sudah 30 kali marah-marah. Hari berganti hari jumlah yang ia pakukan berkurang. Sang anak merasakan capek dan lelah ketika harus memakukan paku-paku saat marah.

Akhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa bisa mengendalikan amarahnya dan lebih bisa bersabar. Dia memberitahukan kabar baik ini kepada sang ayah dengan malu-malu.

Sang ayah pun tersenyum puas. Namun ia meminta anaknya untuk mencabut satu paku setiap hari ketika ia tidak marah. Hari-hari berlalu dan anak laki-lakinya telah berhasil mencabut semua paku.

Sang ayah lalu menuntun anaknya ke pagar.
“Kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu akan meninggalkan bekas di hati orang lain seperti lubang-lubang ini.”
Semoga kita bisa belajar dari kisah ini. Ketika kita marah atau menyakiti orang lain, tidak peduli berapa kali kita meminta maaf. Luka itu akan tetap ada… Maka, tidak ada ruginya banyak-banyak berbuat baik dan berhenti marah-marah apalagi menyakiti orang lain. via uniqpost